Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT
Beruang Madu Di Taman Rusa. Foto | MAS@2013

Beruang Madu Di Taman Rusa.
Foto | MAS@2013

Koetaradja | Sepasang Beruang Madu (Helarctos malayanus) yang terdapat di Taman Rusa, Desa Lamtanjong, Kec. Suka Makmur, Kab Aceh Besar hingga hari ini, jum’at (03/05/2013) belum di sita oleh BKSDA Aceh, sementara sebagaimana yang kita ketahui bersama, mamalia dari famili ursidae ini juga termasuk satwa yang dilindungi.

Sejak tahun 1994, Beruang madu (Helarctos Malayanus) di kategorikan dalam status konservasi “Rentan” (Vulnerable; VU) yang berarti spesies ini sedang menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di habitatnya.

Pada operasi yang dilakukan sebelumnya (24/04/2013), BKSDA Aceh telah menyita satu ekor orangutan (Pongo abelii) dari tempat yang sama. Kenapa beruang madu tersebut tidak disita, ujar Ratno Sugito, pemerhati satwa liar Aceh kepada Koetaradja (03/05/2013).

Kepala Balai Konservasi Simber Daya Alam Aceh, Amon Zamora ketika dikonfirmasi (03/05/2013) menyatakan bahwa beruang madu itu tidak disita atas pertimbangan pemilik satwa sudah berkomitmen untuk mengurus ijin, juga sudah kita komunikasikan ke jakarta, sekarang sedang berproses. Jika disita, pasti harus kita bawa ke kantor, sementara dikantor sarana pendukungnya juga kurang baik. Sementara itu, pemilik Taman Rusa sampai saat ini belum berhasil dikontak.

Menurut informasi yang Koetaradja dapatkan dari sumber yang tidak ingin di sebutkan namanya, beruang madu yang berjenis kelamin betina dengan tinggi 1,5 m yang terdapat di Taman Rusa adalah titipan istri mantan petinggi Kepolisian. Satwa ini dititipkan karena merasa takut dengan sifat buas

Koetaradja sedang melakukan penulusuran lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Sedangkan Helarctos malayanus yang berjenis kelamin jantan, baru di beli dari pemburu satwa di sekitar hutan jantho, ujar salah satu penjaga satwa ini.

Beruang madu masih tercantum dalam daftar IUCN Red List hasil review IUCN Species Survival Commission (2001), dengan status Vulnerable A2cd+3cd+4cd ver 3.1 dengan kecenderungan populasi yang menurun. Satwa pemakan madu ini jauh sebelumnya juga telah dimasukkan dalam CITES Apendix I, yaitu sejak tahun 1979.

Beruang madu banyak diburu orang karena punya nilai jual cukup tinggi. Diperjualbelikan di pasar gelap, baik itu berupa empedu, daging, bulu dewasa, beruang madu dewasa maupun anak-anak yang dijual sebagai satwa peliharaan.

Ancaman lain terhadap beruang madu adalah rusaknya habitat akibat pembukaan hutan untuk pemukiman dan perkebunan serta kebakaran hutan yang semakin mempersempit ruang untuk hidup satwa pemakan madu ini.

Home Range Helarctos malayanus Sumber | http://maps.iucnredlist.org/map.html?id=9760

Home Range Helarctos malayanus
Sumber | http://maps.iucnredlist.org/map.html?id=9760

Dedi Punk, salah satu generasi muda kota Banda Aceh yang pernah menimba ilmu disebuah universitas swasta di Banda Aceh bidang konservasi berpendapat “beruang itu harus disita karena si pemilik tempat rekreasi tersebut tidak memiliki izin untuk  memelihara atau menyimpan satwa tersebut, kalo tak percaya coba lihat UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan Ekosistemnya. BKSDA harus menyita beruang madu itu segera, jika tidak maka Kepala BKSDA Aceh patut diduga melakukan korupsi, soalnya dia punya kewenangan itu sementara pelanggaran terjadi dan diketahuinya namun dianya tidak bertindak, korupsi kewenangan dong namanya”. (K07)

 

Categories: LINGKUNGAN, SATWA

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.