Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT

Harris, Ketua Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) Kendari sedang memaparkan kemajuan dan perkembangan program Comlog.
Foto | Koetaradja@2013

Koetaradja.com | Melalui Gerakan Commmunity Logging, Telapak juga menciptakan beberapa unit industri yang menjadi salah satu unit usaha koperasi. Kemandirian ekonomi terus diupayakan dengan berbagai usha yang dikembangkan oleh para anggota, jumlahnya terus bertambah, koperasi ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan anggotanya, ujar Khusnul Zaini, Presiden Telapak (13/06/2013).

Febri Ekawati, sekretaris Badan Teritorial (BT) Lampung menyatakan bahwa Koperasi Comlog Giri Mukti Wana Tirta (GMWT) Provinsi Lampung yang berbadan hukum Koperasi No.24/BH/X.2/X/2009, Akte perubahan BH. 28/BH/PAD/X.2/IX/2011 dapat menjadi salah satu bukti keberhasilan comlog, saat ini koperasi ini memiliki beberapa unit usaha seperti Pengolahan Produk HHK (Log, furnitur), Pembibitan kayu , Pengembangan energi terbarukan (Biogas) sebagai upaya untuk proses adaptasi perubahan iklim, Pengembangan produk HHBK (Madu, Rempah, dll), Pengembangan jasa lingkungan lewat adopsi pohon dan penyerapan carbon.

Lebih lanjut Febri menjelaskan “Koperasi Comlog ini juga telah memperoleh sertifikat VLK No.00050 pada Pengelolaan Hutan Rakyat pada tahun 2011. Untuk mendapatkan kembali sertifikat VLK, koperasi ini telah diaudit kembali oleh Sucofindo Internasional Certification Services pada bulan Januari 2013 dan menetapkan areal HR seluas 210,7362 ha dari usulan total 231, 4707 ha lolos verifikasi. Pada bulan Juni ini akan diterbitkan kembali sertifikat VLK oleh SICS untuk HR Comlog GMWT seluas 210, 7362 ha dengan jumlah anggota 223 orang.”

Selain GMWT, Koperasi Comlog Wana Lestari Menoreh (KWLM) yang berpusat di Daerah Istimewa Djogja juga menorehkan bukti keberhasilan comlog. Koperasi ini mendapatkan sertifikat Forest Stewarship Council (FSC). KWLM juga telah menetapkan diameter tebangan untuk jati, mahoni dan sonokeling minimal diameter 25 cm dan untuk albasia minimal diameter 20 cm. Untuk menjaga kelestarian, KWLM membuat ketentuan Tebang satu tanam sepuluh. Unit usaha yang berhasil dikembangkan oleh KWLM adalah unit kayu olahan, unit kayu log (non-fsc) unit pertanian dan perkebunnan (tanaman empon-empon), unit pembibitan.

Sebelumnya Community logging diusulkan oleh Perkumpulan Telapak beserta jaringan dan mitra kerjanya. Gerakan tersebut memaknai perubahan mendasar pengusahaan hutan di Indonesia, dimana saat ini dicirikan oleh maraknya illegal logging, menjadi mengarusutamanya community logging, pengusahaan hutan secara berkelanjutan, lestari dan berbasis masyarakat.

Munculnya inisiatif community logging juga dipicu oleh kondisi lahan kritis di Indonesia yang luasnya mencapai 59,2 juta hektare dari lahan hutan yang seluas 120,5 juta hektare, dimana diharapkan bahwa lahan kritis tersebut dapat berpotensi menjadi lokasi pengembangan community logging sebagai pengganti kerusakan yang diakibatkan oleh praktek-praktek illegal logging. Dan berdasarkan data BPS tahun 2006, jumlah orang miskin di dalam dan sekitar hutan sebanyak 14,1 juta sehingga community logging menjadi alternatif lapangan usaha yang dapat menyerap tenaga kerja bagi komunitas di sekitar hutan.

Perkumpulan Telapak memiliki agenda kehutanan penting, yaitu “menghentikan illegal logging dan membangun community logging” (from illegal logging to community logging). Bekerja bersama masyarakat sipil Indonesia dan dunia untuk menghentikan praktek dan kebijakan yang merusak hutan. Membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung revitalisasi kehutanan Indonesia menuju kelestarian dan pengelolaan yang berbasis masyarakat. K07)

Categories: LINGKUNGAN

One Response so far.

  1. Ahmad Kamarudin says:

    Yth. Ketua Koperasi Community logging, saya tertarik sekali dengan gerakan Telapak yang telah merintis koperasi Comlog, saya memohon dapat diterima sebagai anggota. Saya telah melakukan penanaman pohon jati emas,jati putih, pohon mahoni, di 5 (lima) tempat di Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa. Di 4 (empat) lokasi sudah terjual, dan yang tinggal 1 (satu) lokasi di Desa Puncak Jeringo Kecamatan Suela, seluas 2,4 ha (3500 pohon), ditanam pada tahun 2006, masih terpelihara.
    Saya masih senang dan tertarik dengan penanaman pohon pada lahan kering dan berbatu. Masalah yang saya haadapi setelah pohon berumur 5 atau 6 tahun tidak lagi dapat ditanami dengan tanaman sela seperti cabai dan jagung, saya masih mencoba pada permulaan musin hujan tahun ini dengan tanaman jahe merah, semoga berhasil.
    Akan merasa senang jika saya dapat diterima sebagai anggota, sehingga masalah yang dihadapi dapat atasi secara bersama dalam satu gerakan.
    Salam dan terima kasih (Ahmad Kamarudin)

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.