Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT

Koetaradja | Youth Departmen Transparency International Indonesia  menggelar Workshop Integrity Goes To School di Jambo Geumeuloh, Lambaro Skep, Banda Aceh (04/05/2013). Dadang Tri Sangsoko, Sekretaris Jendral Transparency International Indonesia (TII) dalam kata sambutan saat pembukaan menyatakan “anak muda adalah kekuatan penting dalam menghadapi korupsi dan memang harus disiapkan apalagi mereka adalah penerus bangsa dan anak muda yang akan menjadi penentu nasib bangsa kedepannya.”

Para peserta bubuhi tanda-tangan dukung Gerakan Anti Korupsi. Foto | YOES@2013

Kegiatan ini diikuti oleh para pelajar SMU se-Kota Banda Aceh serta elemen kepemudaan lainnya yang tergabung dalam berbagai komunitas aneuk muda di koetaradja.

Betapa pentingnya menyiapkan kekuatan pemuda dalam menghadapi korupsi di Indonesia apalagi kejahatan korupsi ini sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia, ujar Dadang.

Dalam workshop ini, dosen muda dari IAIN Ar-raniry, Reza Ardian memaparkan materi dengan judul “Peran generasi Muda dalam isu Politik saat Ini”, sementara Hafidh (Masyarakat Transparansi Aceh) menyampaikan materi yang diberi judul “Karakter Anak Muda Aceh”, serta Hendrik (Sekolah Anti Korupsi Aceh) dengan materi “Kiprah Mitra Lokal TII dalam Gerakan Anti Korupsi”.

Transparency International Indonesia dalam workshop ini juga menyampaikan materi yang berjudulkan “Anak Muda, Pendidikan politik dan Gerakan Anti Korupsi”, Tindakan berintegritas sangat diperlukan dalam generasi muda dan itu perlu dibangun dari lingkungan terkecil yakni rumah tangga (keluarga)”. Ungkap Lia Toriana yang mewakili Youth Department di Transparency International Indonesia.

Hafidh menyatakan keprihatinan dan keresahannya selaku pemuda, prilaku korupsi dan suap yang terjadi di Aceh, di Bireun, dengan terang-terangan orang menjual dan membali rekom untuk mendapatkan kontrak agar menjadi pegawai, tidak ada rasa malu”  Ketika nilai integritas tinggi, maka korupsi akan turun, dan juga begitu sebaliknya.

Saat sesi diskusi dan tanya jawab, aneuk muda koetaradja sangat antusias untuk menyampaikan pertanyaan, ada juga  yang menyampaikan keluhan dan kesesalannya atas kondisi Aceh hari ini. Beragam simulasi yang kreatif dalam bentuk permainan yang sajikan cukup menggembirakan peserta. Salah satu permainan yang disajikan sebagai saluran komunikasi pemahaman terkait korupsi dilakukan dengan permainan monopoli.

Berawal dari kesadaran akan banyaknya kebocoran APBA dan APBK di Aceh pada tahun 2010 dan juga mendorong kepedulian masyarakat terutama pemuda dan generasi muda di Aceh terhadap korupsi maka Sekolah Anti Korupsi (SAKA) didirikan, ucap Hendrik, kepala Sekolah Anti Korupsi Aceh.

Lia Toriana mengatakan bahwa ini adalah kesempatan kita untuk berkenalan dengan anak muda aceh dan mengetahui pendapat mereka terhadap integritas dan sikap mereka dalam melawan korupsi?” dan menurutnya lagi semangat anak muda Aceh ini masih sangat tinggi untuk diajak peduli dalam melawan korupsi. (K07)

Categories: NUSANTARA

Leave a Reply



four × = 16