Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT

Koetaradja | “Kembalikan kedaulatan RAKYAT.!!!, Land Reform HARGA MATI.!!, Jangan ikut Amerika.!!…, HUTAN untuk RAKYAT.!!” dan banyak lagi suara-suara yang sudah tidak asing lagi diruang pendengaran kita dalam sebuah demonstrasi dan orasi-orasi gerakan sipil. Kalimat-kalimat tersebut bukan kalimat tanpa dasar sama sekali, kalimat tersebut berasal dari potongan-potongan penderitaan yang timbul sebagai akibat pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Negara ini.

Diberbagai media massa mempertontonkan adegan penguasa dan elit politik yang semakin memiriskan rakyat. Membingungkan, karena apa yang dipraktikkan oleh penguasa dan elit politik yang dipilih oleh rakyat di saat pesta demokrasi justru sangat jauh dari apa yang mereka janjikan di saat menjelang pesta demokrasi. Memiriskan, karena apa yang didapatkan rakyat justru beban politik negara sekaligus beban sosial-ekonomi rakyat sendiri.

efendi-isma-300x2201

Efendi Isma, Aktivits LSM Uno Itam

Ingatan kita semakin akrab dengan bahasa pelanggaran hukum, praktik korupsi dalam berbagai kasus seperti Century, Hambalang, BLBI, Lapindo, wisma atlet, korupsi Qur’an dan semacamnya nyaris tak berujung pada penyelesaian kasus. Rakyat mendapatkan suguhan yang jijik-menjijikkan, ditambah pula dengan penguasa dan elit politik juga lebih sibuk mengurus jabatan dan partai politiknya daripada mengurus kepentingan negara dan rakyat. Sebuah fakta yang susah untuk dihapus dalam coretan-coretan sederhana rakyat jelata sekalipun.

Ketika harapan sering dibalas dengan ratapan, optimisme rakyat sering dihadapkan dengan pesimisme penguasa dan elit politik, lalu dengan naïf sebuah konsep bernegara itu adalah upaya “memberi tak harap kembali”. Tetapi jika lakon kekuasaan (dan elit politik) selalu mencederai filosofi institusi negara sekaligus pemangku jabatannya (dari Partai politik), maka lagi-lagi bagi rakyat, bernegara itu naif. Di atas kenaifan itulah rakyat kadang terpaksa untuk memiliki optimisme—walau selalu ada syarat untuk pesimis.

Membaca fenomena tersebut, mengharuskan siapa pun penghuni negeri ini untuk mengambil peran. Dalam pada realitas seperti itu elemen-elemen penting negara, terutama rakyat, diharuskan berbicara secara tepat dan bersikap tegas. Hanya dengan begitu, kenyataan dan fenomena tidak menjadi pemicu munculnya caci maki yang tak elok, tapi justru menginspirasi munculnya pikiran-pikiran jernih yang konstruktif.

Bangunan Semu yang Tersuruk dalam Pesimistis

Dalam sebuah pertemuan multi pihak, pemerintah kerap menohok LSM dan ORMAS supaya jangan hanya bisa berbicara, jangan hanya pintar memberi kritikan kepada pemerintah, jangan hanya pintar menyalahkan pemerintah. Secara kasat mata, kondisi ini mencirikan bahwa pemerintah sudah kehilangan kepercayaan diri, ketika pemerintah tidak mampu lagi menempatkan tupoksi nya sebagai pengemban amanah rakyat maka pembangunan kehilangan arah dan orientasinya tidak lagi berpihak kepada rakyat.

Sesaat dalam pertemuan kita merasakan ada yang kurang dari semuanya, kemudian terbentuk sebuah bangunan yang menjadikan “seakan-akan” satu dalam semangat demi bangsa dan Negara, membentuk kekuatan baru untuk melakukan perubahan yang kemudian olah pikiran ditumpahkan dalam bentuk rekomendasi-rekomendasi untuk dilaksanakan oleh pemerintah. Pesta usai, para pihak sudah mengerti dan paham apa yang harus dan akan dilakukan selanjutnya, dalam bayangan harapan semua permasalahan terselesaikan (menurut sebuah game disebut mission complete).

Sejarah tak pernah merupakan deretan potret atau kumpulan gambar terpotong yang diam. Sejarah selalu merupakan rangkaian adegan gambar hidup yang sambung menyambung. Maka, pembicaraan tentang fenomena penguasa dan elit politik satu periode bahkan era tertentu tak bisa lepas dari diskusi tentang periode bahkan era lain yang mengantarnya serta yang dijemputnya.

Begitulah, perbincangan tentang era Reformasi mesti menyertakan diskusi mengenai Orde Baru dan Orde Lama yang mengantarnya serta era yang akan datang yang dijemputnya. Fenomena penguasa dan elit politik Indonesia saat ini pun diantar oleh fenomena yang sama pada era sebelumnya dan menjemput era barunya yang akan datang.

Begitu juga dengan nasib “bangunan” bersama ini, dia kembali menjadi sebuah catatan rekomendasi yang tersuruk di lapisan paling bawah berkas pejabat dan penguasa atau sebagian sudah menjadi omset bagi pemulung yang kebetulan lewat di tong sampah dekat kantor, artinya bangunan itu menjadi bangunan semu yang hanya dibutuhkan untuk meyakinkan sebagian rakyat bahwa permasalahan mereka sudah didengar, sudah dibuat solusi dan sudah ada komitmennya. Rekomendasi hanya akan menjadi catatan ketika sebuah pertemuan kembali digelar di masa datang dan tidak pernah menjadi bangunan yang utuh.

Rakyat menjadi pesismis terhadap semua kegiatan pemerintah dan kerap diiringi dengan kecurigaan yang sangat beralasan karena “dulu”nya pemerintah adalah seperti itu, dan para aktivis yang sebagian hanya memiliki modal “muncung” ini kerap menjadikan pemerintah sebagai bulan-bulanan. Bukankah semestinya begitu.?

LSM sebagai sparing partner pemerintah (sebagian besar) kerap berposisi “oposan” dalam mengkritisi kinerja pemerintah dan arah pembangunan bangsa dan Negara, seharusnya pemerintah tidak perlu antipati terhadap LSM dan aktivis bermodal “muncung” selayaknya berterimakasih karena telah menunjukan celah negative dari sebuah tupoksi pemerintah yang harus ditambal dan diperbaiki.Semoga pemerintah terus menjadi dewasa.

(Efendi Isma, Penulis adalah Aktivis LSM Uno Itam)

Sumber : Atjehlink.com

Categories: OPINI

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.