Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT
Kebakaran Lahan Konsesi Perkebunan Sawit di Rawa Tripa Photo | Be_Maret@2014

Kebakaran Lahan Konsesi Perkebunan Sawit di Rawa Tripa
Photo | Be_Maret@2014

Koetaradja.com | Kabut asap di Riau makin memburuk. Selain mengganggu penerbangan, kesehatan penduduk semakin terancam.

Terkait ancaman itu, Jumat (14/3), Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menyarankan kepada warga Riau dan warga di wilayah terdampak asap menghindari atau mengurangi aktivitas di luar rumah/gedung, terutama bagi penderita penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Upayakan asap tidak masuk ke dalam rumah/sekolah/kantor. Jika memungkinkan, gunakan AC dengan filter khusus dan pembersih udara.

Dalam kondisi lingkungan penuh asap, kemampuan kerja paru berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah serta kesulitan bernapas. Selain itu, kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.

Asap bisa menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, menyebabkan reaksi alergi, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ”Selain itu, asap bisa memperburuk penyakit yang ada, seperti asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronik, gangguan jantung kronik,” kata Tjandra,

Kalau terpaksa ke luar rumah/gedung sebaiknya warga mengenakan masker. Mereka yang mengalami gangguan paru dan jantung agar minta nasihat ke dokter terkait perlindungan tambahan sesuai kondisi.

”Perlindungan ekstra perlu dilakukan terhadap orang lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis. Mereka lebih rentan mengalami gangguan kesehatan,” ujarnya.

Warga disarankan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), seperti mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, istirahat cukup, minum air putih lebih sering. mencuci sayuran dan buah sebelum dikonsumsi, serta memasak dengan baik bahan pangan yang perlu dimasak.

Penting pula menutup penampungan air minum dan makanan untuk melindungi dari paparan polusi yang mungkin menyebabkan diare.

Meningkat drastis

Menurut situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, penderita ISPA meningkat pesat dari 18.893 orang pada 26 Februari menjadi 43.463 orang pada 12 Maret.

Kabupaten yang paling banyak penderita ISPA adalah Rokan Hilir dan Pekanbaru. Disusul Rokan Hulu, Kota Dumai, Bengkalis, Kampar, Siak, dan Pelalawan.

Pada 26 Februari, penderita iritasi kulit ada 650 orang, asma 451 orang, iritasi mata 337 orang, pneumonia 326 orang. Pada 12 Maret, penderita iritasi kulit melonjak jadi 2.192 orang, asma 1.621 orang, iritasi mata 1.506 orang, pneumonia 809 orang.

Michael Brauer, associate professor dari Universitas British Columbia, Kanada, dalam makalahnya ”Health Impacts of Biomass Air Pollution (1998)”, menyatakan, asap biomassa hasil kebakaran hutan mengandung berbagai jenis zat kimia yang sebagian besar terindikasi mengganggu kesehatan, termasuk partikulat dan gas karbon monoksida, formaldehid, akrolein, benzen, nitrogen dioksida, ozon. Gas yang paling berbahaya adalah karbon monoksida dan aldehid.

Partikulat adalah campuran dari zat yang mengganggu kesehatan, seperti jenis-jenis polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Contoh PAH, antara lain, benzo(a)pyrene (BaP) yang bersifat karsinogenik (bisa menimbulkan kanker). (ATK)

Suber : print.kompas.com

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.