Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT

Koetaradja.com | ”Besar harapan saya bahwa setelah pertemuan ini akan melahirkan action plan bagaimana menyelamatkan DAS dan hasilnya harus ditangkap oleh birokrat, kemudian disusun rencana di tingkat pusat sampai dengan daerah dengan benang merahnya adalah one river-one  plan-one management, “kata Prof. Emil Salim sebagai keynote speech dalam Seminar Nasional Restorasi DAS : Mencari Keterpaduan di Tengah Perubahan Iklim, kerjasama antara Balitek DAS Solo, Prodi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dilaksanakan di Gedung Pasca Sarjana UNS Solo, selasa (25/08).

Lebih lanjut.Prof Emil menyitir salah satu makalah yang ditulis oleh Evi Irawan mengenai diskoneksi regulasi pengelolaan DAS adalah soal koordinasi dan mekanisme pembiayaan sehingga regulasi pengelolaan DAS di Indonesia memiliki tingkat kompleksitas sangat tinggi dan cenderung bersifat sektoral sehingga pemerintah perlu untuk mensingkronkan berbagai peraturan dalam pengelolaan DAS.

Prof. Emil mengatakan bahwa ruwetnya peraturan-peraturan tentang pengelolaan DAS dan siapa yang mengkoordinasikan pengelolaan DAS saat ini karena pengelolaan DAS ada di beberapa Kementerian antara lain Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian LHK, Kementerian Agraria dan Tata Ruang sehingga pengelolaan DAS tidak bisa ditangani secara sektoral tetapi pengelolaan DAS ditangani sebagai sebuah ekosistem yang menyatu.

Saat ini sedikitnya ada sekitar 108 DAS di Indonesia berada dalam kondisi kritis sehingga rawan menimbulkan bencana banjir, oleh karena itu dalam rangka memperbaiki (merestorasi) kondisi DAS-DAS yang telah mengalami kerusakan/kritis dibutuhkan keterpaduan yakni koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga baik lembaga pusat dan daerah, horizontal dan vertikal maupun stakeholder lain serta antar disiplin ilmu pengetahuan.

Kemudian Prof.Emil menyampaikan mengenai evaluasi kesehatan DAS, disimpulkan bahwa penggunaan lahan tidak sesuai dengan daya kemampuan DAS sehingga menimbulkan dampak banjir.

“Kita punya DAS yang mengalir dari hulu-hilir, jika tata guna lahan tidak sesuai dengan daya tampung DAS sehingga terjadilah  banjir. Misalnya Jakarta setiap tahunya mengalami banjir karena penggunaan lahan di hulu Ciliwung berantakan,”kata Prof.Emil

Selain itu Prof.Emil juga mengungkapkan bahwa perlindungan dan pemanfaatan DAS, khususnya kegiatan konservasi KTA di Ciliwung rusak berat sehingga menjadi pemasok air (banjir) 96% ke Jakarta. Jalan keluarnya adalah DAS Cilwung harus di sehatkan kembali, apabila 96% tidak diperbaiki maka banjir akan tetap ada di Jakarta. Jalan keluarnya adalah melalui pemberdayaan masyarakat agar dalam mengelola lahannya dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air serta memperhatikan harga produk-produk hasil pertanian dari petani.

“Bagaimana situasi DAS di Indonesia ini? Kondisi DAS di Indonesia rusak berat, dilihat dari sedikit ada curah hujan maka akan ada banjir di hilir. Sebaliknya jika curah hujan menurun/kemarau maka Indonesia kekurangan air jadi  fluktuasi tinggi antara musim kemarau dan musim hujan,”kata Prof.Emil

“Oleh karena itu perlu dikaji lebih dalam apa penyakit DAS dan apa obatnya?Terkait dengan hal tersebut maka dilaksanakan rangkaian studi tentang kajian pengelolaan DAS yang menyimpulkan perlunya restorasi DAS,”kata Prof Emil.

Selain itu Prof Emil mengatakan bahwa satu keharusan untuk menempatkan pengelolaan DAS pada prioritas perencanaan pembangunan yang tinggi, melalui Kabadan Litbang dan Inovasi untuk Menteri LHK bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang mengambil inisitaif untuk menyusun Master Plan DAS di Indonesia dengan koordinasi Menko Kemaritiman.

“Bagaimana Kabadan Litbang dan Inovasi bersama dengan Kementerian Tata Ruang dan Agaria  bersama dengan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Kementerian Pertanian dan stakeholder lainnya melakukan penataan program DAS. Tanpa penataan program DAS maka Indonesia kehilangan air dan kalau air hilang maka Indonesia akan hilang,” ungkap Prof.Emil

“Yang diperlukan setelah ada kajian seminar ini adalah adanya action plan tata ruang kedalam rencana penggunaan lahan dan pengembangan para petani,”harap Prof.Emil

Selaras dengan peryataan Prof. Emil Salim, Kabadan Litbang dan Inovasi, Dr. Henry Bastaman mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam seminar ini, yaitu Restorasi DAS sangat tepat untuk memfokuskan rumusan yang dapat mendukung penyelesaian persoalan Pengelolaan DAS.  Hal ini mengingat bahwa berbagai upaya untuk memperbaiki kerusakan lahan/merestorasi DAS secara keseluruhan telah dilakukan, namun masih banyak dijumpai lahan dalam kondisi kritis.

Di sisi lain, perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan temperatur dan pola hujan, akan sangat mempengaruhi ekosistem DAS dan kondisi hidrologis dalam DAS. Perubahan kondisi hidrologis DAS inilah yang akan mempengaruhi keterpaduan pengelolaan sumber daya dalam DAS.

“Jadi formulasi keterpaduan pengelolaan sumberdaya dalam DAS tersebut mutlak diperlukan sebagai implikasi perubahan iklim sehingga seminar ini saya harapkan mampu merumuskan hal konkrit tentang keterpaduan ini,”kata Kabadan

“Penyelenggaraan pengelolaan DAS perlu diperluas dengan memperhitungkan hal-hal terkait dengan perubahan parameter iklim, dan terutama menyangkut upaya-upaya peningkatan daya dukung DAS. Hal ini selaras dengan tujuan pengelolaan hutan yang diamanatkan oleh UU 41/1999 tentang Kehutanan dan PP 37/2012 tentang Pengelolaan DAS yaitu untuk meningkatkan daya dukung DAS.  Selain itu dalam UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup juga mengatur tentang peningkatan daya dukung dan daya tampung dalam rangka Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).  Berangkat dari keterpaduan langkah substantif inilah maka keselarasan program pengelolaan DAS dan Lingkungan Hidup merupakan keniscayaan,”ungkap Kabadan

Lebih lanjut Kabadan mengatakan bahwa upaya Restorasi DAS tidak cukup hanya dilakukan dengan menekan erosi dan limpasan permukaan. Restorasi DAS harus diletakkan pada cakupan yang lebih luas dan komprehensif dengan melakukan upaya-upaya perbaikan pengelolaan sumberdaya, serta memperhitungkan perubahan ekosistem DAS akibat berubahnya parameter iklim.

“Tujuan restorasi DAS harus difokuskan untuk memperbaiki siklus hidrologi dengan berupaya agar sebanyak-banyaknya air meresap ke dalam tanah. Indikator pencapaiannya akan dapat dipantau dari parameter banjir dan kekeringan,”papar Kabadan.

Secara keseluruhan dalam upaya memperbaiki (merestorasi) kondisi DAS-DAS yang telah mengalami kerusakan dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keseriusan para pihak, termasuk keterpaduan antar lembaga maupun antar disiplin ilmu pengetahuan.  Pengelolaan DAS tidak dapat difragmentasi, satu sungai (DAS) harus satu pengelolaan dan satu aksi. Pengelolaan DAS harus dilakukan secara utuh dari hulu sampai hilir, dan melibatkan semua para pihak yang ada didalamnya.

Kabadan berharap melalui seminar ini dapat terjalin koordinasi serta komunikasi yang baik dalam menyikapi permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan pada umumnya serta permasalahan pengelolaan DAS pada khususnya.

Setelah melakukan arahan, Kabadan meluncurkan Majalah CerDAS (Cerita dan Informasi Seputar DAS) yang merupakan majalah semi ilmiah popular yang diharapkan bisa menjembati antara dunia riset dengan para praktisi. Majalah CerDAS mengawali penerbitan perdana pada bulan Agustus 2015 dengan tema “Adaptasi Bencana DAS”.

Sementara itu, Dr. Nur Sumedi, Kepala Balitek DAS Solo dalam laporan penyelenggaraan seminar mengatakan bahwa tujuan seminar ini adalah untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian terkini dalam menyikapi permasalahan pengelolaan DAS di tengah isu perubahan iklim dan membahas cara atau metode pemecahan masalah agar dapat dilakukan tindakan (action) sehingga diharapkan hasil penelitian dan pengembangan bidang pengelolaan DAS yang telah dilakukan oleh Balitek DAS maupun lembaga lain dapat tersampaikan dan  dimanfaatkan oleh pengguna baik instansi terkait maupun masyarakat umum.

Seminar ini diikuti oleh sekitar 200 orang peserta yang berasal dari Instansi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, lembaga penelitian lain, akademisi/Perguruan Tinggi, NGO, praktisi di bidang pengelolaan DAS, masyarakat pengguna dan mahasiswa.***PKM

Sumber : www.forda-mof.org

Categories: LINGKUNGAN, NUSANTARA, SUNGAI

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.