Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT

Koetaradja.com | Suku Gayo adalah suku bangsa yang mayoritas bermukim di wilayah dataran tinggi Aceh Tengah, Tenggara, Bener Meriah dan Gayo Lues serta sebagian di wilayah Kabupaten Aceh Timur yaitu di Kecamatan Simpang Jernih, Seurbe Jadi dan Peunaron. Sebagian kecil lainnya tinggal di wilayah Aceh Tamiang. Sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-11 orang-orang Gayo mendirikan Kerajaan Linge pada era pemerintahan Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah. Suku Gayo dikenal sebagai suku bangsa yang memegang teguh nilai-nilai keislaman dan kebudayaan leluhur yang terus terpelihara dan mendunia hingga saat ini.

Berbicara kebudayaan di Tanah Gayo seolah tak akan pernah ada habisnya, mulai dari hasil bumi yang terkenal di seluruh dunia, keindahan geografis serta seni budaya yang tak ternilai harganya. Berikut beberapa hal yang menurut saya unik dan pantas menjadikan Gayo sebagai pusat peradaban budaya Aceh;

1. Premium coffee Gayo Arabica. Kopi Arabica khas Gayo Aceh ini merupakan salah satu kopi kelas tinggi di dunia sejajar dengan kopi-kopi kelas dunia lain seperti Blue Mountain coffee, Brazilian Ethiopian coffee. Keistimewaan kopi ini adalah aromanya yang harum dan rendah tingkat keasamannya yang tidak dapat diperoleh di belahan dunia manapun. Hal ini sangat dimungkinkan karena kondisi geografis Tanah Gayo yang berada di atas ketinggian 1200 m dari permukaan laut, jenis tanah dan suhu yang mendukung untuk dihasilkannya kopi terbaik. Bahkan benchmark kopi terkenal dunia seperti Starbuck menggunakan kopi dari daerah Gayo sebagai salah satu produknya, karena rasa, aroma dan tingkat keasamannya yang rendah. Seorang winemaker asal Perancis menyebutkan bahwa kopi Arabica Gayo merupakan gout de terroir-atau the taste of the place.

2. Tari Saman. Tari Saman merupakan tarian yang berasal dari Gayo yang bermuatan pesan-pesan religi dan dakwah. Bermakna kesopanan, keagamaan dan disiplin. Tarian ini awalnya diciptakan oleh Syech Saman seorang pemuka agama dari Gayo

Aceh Tenggara. Saat ini, tari Saman telah ditarikan oleh hampir seluruh ekspedisi kebudayaan nasional ke manca negara dan ditampilkan di berbagai event dunia. Pada Sidang akbar tahunan UNESCO yang dihadiri lebih dari 500 anggota delegasi dari 69 negara, LSM internasional, pakar budaya dan media itu berlangsung di Bali International Convention Centre 2011 lalu, tari Saman dari Gayo Lues dan sekitarnya di Provinsi Aceh resmi diakui dan masuk dalam daftar warisan budaya takbenda.

3. Didong. Didong adalah kesenian rakyat Gayo Aceh yang memadukan beberapa unsure seni seperti tarian, vokal dan sastra. Kesenian ini pertama kali dikenalkan oleh Abdul Kadir To`et sejak masa kerajaan Raja Linge XIII. Sebagaimana umumnya landasan kebudayaan Aceh merupakan syiar agama, din yang juga berarti agama dan dong yang berarti da`wah menjadi tradisi hiburan bagi masyarakat Gayo yang sangat digemari utamanya di Takengon dan Bener Meriah. Pada 13 Januari 2013 lalu, Kebudayaan Didong berhasil meraih rekor MURI dengan melibatkan 2013 personel dari Tanah Gayo hingga melahirkan mahakarya anak negeri dataran tanah tinggi Gayo.

4. Gunung Leuser National Park. Taman Nasional Leuser merupakan hutan lindung seluas 7.927 km2 yang terletak di antara perbatasan Provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Gunung Leuser dengan ketinggian lebih dari 3000 m merupakan kawasan lindung ekosistem bagi berbagai macam species langka seperti salah satunya orangutan “siamang”. Dengan luasnya wilayah dan tingginya nilai kekayaan alam yang sangat penting tidak saja bagi masyarakat di daerah tersebut, namun juga di seluruh dunia maka Gunung Leuser ditetapkan sebagai paru-paru dunia bersama dengan daerah-daerah lain di dunia seperti Amazon di Brasil dan hutan-hutan di Afrika.

4 hal unik di atas adalah sedikit items dari banyak hal yang menurut saya pantas menjadikan Gayo sebagai pusat kebudayaan di Aceh. Sebab selain tingginya nilai-nilai seni dan budaya yang berkembang di sana, sikap hidup masyarakat Gayo yang masih lekat dengan nilai-nilai keislaman dan budaya leluhurnya lah yang membuat warisan budaya yang ada tetap terpelihara dengan baik dan terjaga hingga saat ini. Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo. Oleh karenannya saya berpendapat Gayo sangat layak untuk dijadikan sebagai pusat kebudayaan Aceh.

Sumber : Kompasiana

Categories: BUDAYA

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.