Koetaradja

Suara Rakyat Merdeka

PULIHKAN HAK RAKYAT
Penjualan telur penyu di seputaran Mesjid Raya Baiturahman (20/06/2013). Foto | SATu@2013

Penjualan telur penyu di seputaran Mesjid Raya Baiturahman (20/06/2013).
Foto | SATu@2013

Koetaradja.com | Seperti kita lihat selama ini, penjualan telur penyu sangat marak di Aceh, bahkan dijual secara terang-terangan diseputaran rumah Allah oleh sang khalifah. Penyu merupakan satwa yang dilindungi. Oleh sebab itu, perlu perhatian khusus terhadap pelestarian penyu di Aceh, khususnya dalam menghilangan konsep di masyarakat terhadap mitos yang selama ini telah beredar, sehingga dapat menurunkan tingkat konsumsi telur penyu di Aceh, ujar Maslim, pemerhati penyu dari Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA) kepada Koetaradja, (20/06/2013).

Menurut Maslim, selama ini masyarakat masih percaya terhadap mitos manfaat dari konsumsi telur penyu yang dapat menambah vitalitas. Sehingga konsumsi telur penyu di Aceh masih sangat tinggi. Padahal beberapa penelitian terakhir menunjukan telur penyu banyak mengandung zat-zat kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menghilangkan mitos ini dari masyarakat. Saya berharap, dengan kejadian ini, pemerintah  bisa lebih memberikan kontribusi terhadap pelestarian penyu di Aceh.

Informasi yang diterima dari Crisna, Sahabat Laut, telur penyu tersebut berasal dari lamno, Aceh Jaya. Pedagang menjual telur penyu dengan harga 5.ooo rupiah perbutirnya, tetapi jika sudah sore telur penyu tersebut akan dilepas dengan harga 4.000 rupiah perbutir. Penjual telur penyu tersebut tidak tau tentang adanya undang-undang yang menyatakan penyu sebagai satwa yang dilindungi, namun demikian si penjual tau bahwa penyu sudah mulai langka.

Lebih lanjut Crisna menyatakan bahwa penjual merupakan pemain lama dalam perdagangan penyu dan yang sangat memprihatinkan adalah dimana pemburu masih belum bisa untuk menghentikan pemburuan telur penyu, memang jelas ini dilatar belakangi kebutuhan ekonomi, tapi pasti ada cara lain yang mungkin bisa menjadi solusi dari hal tersebut.

“Harus ada tindakan tegas dari pihak yang berwenang seperti BKSDA Aceh dan aparatur pemerintah dari instansi terkait lainnya yang telah mengetahui tentang hal perundang-undangan tentang pelindungan penyu, sosialisasi tentang satwa dilindungi dan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan sangat kita dambakan bisa menjadi kenyataan di bumi Serambi Mekkah ini,” ujar Crisna saat mengakhiri pembicaraan. (K02)

Categories: LINGKUNGAN, SATWA

Leave a Reply


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.